
Insights from recent episode analysis
Audience Interest
Podcast Focus
Publishing Consistency
Platform Reach
Insights are generated by CastFox AI using publicly available data, episode content, and proprietary models.
Most discussed topics
Brands & references
No brand mentions extracted.
Est. Listeners
Insufficient chart data. Estimates will improve as the show charts.
- Per-Episode Audience
Est. listeners per new episode within ~30 days
N/A🎙 ~2x weekly·128 episodes·Last published 1mo ago - Monthly Reach
Unique listeners across all episodes (30 days)
N/A - Active Followers
Loyal subscribers who consistently listen
N/A
Market Insights
Platform Distribution
Reach across major podcast platforms, updated hourly
Total Followers
—
Total Plays
—
Total Reviews
—
* Data sourced directly from platform APIs and aggregated hourly across all major podcast directories.
On the show
From 10 epsHost
Recent guests
Recent episodes
Tidak Menjadi Siapa-Siapa Dulu
May 11, 2026
3m 33s
Di Balik Papan Tulis yang Sunyi
May 2, 2026
5m 23s
Memaafkan Diri yang Pernah Salah
Apr 24, 2026
6m 04s
Tunggu Aku Sukses Nanti
Apr 18, 2026
5m 05s
Bertahan Tanpa Tepuk Tangan
Apr 10, 2026
5m 51s
Social Links & Contact
Official channels & resources
Official Website
Login
RSS Feed
Login
| Date | Episode | Topics | Guests | Brands | Places | Keywords | Sponsor | Length | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 5/11/26 | ![]() Tidak Menjadi Siapa-Siapa Dulu✨ | personal growthlife journey+3 | Riky Yulianto | — | — | personal growthlife journey+5 | — | 3m 33s | |
| 5/2/26 | ![]() Di Balik Papan Tulis yang Sunyi✨ | educationteaching+3 | — | — | — | teacherclassroom+6 | — | 5m 23s | |
| 4/24/26 | ![]() Memaafkan Diri yang Pernah Salah✨ | self-forgivenesspersonal growth+3 | Sofie Aryati | — | — | memaafkan dirikesalahan+3 | — | 6m 04s | |
| 4/18/26 | ![]() Tunggu Aku Sukses Nanti✨ | personal growthpersistence+3 | — | — | — | successdreams+3 | — | 5m 05s | |
| 4/10/26 | ![]() Bertahan Tanpa Tepuk Tangan✨ | perseverancepersonal growth+3 | Sofie Aryati | — | — | perseverancecourage+3 | — | 5m 51s | |
| 4/3/26 | ![]() Waktu yang Mengubah Cara Mencintai✨ | lovepersonal growth+3 | Rizqa Fajria | — | — | maturitylove+3 | — | 4m 10s | |
| 3/29/26 | ![]() Tetap Lembut di Dunia yang Keras✨ | empathyresilience+3 | Rizqa Fajria | — | — | gentlenesscourage+4 | — | 4m 03s | |
| 3/21/26 | ![]() Special Lebaran - Tak Semua Rindu Bisa Pulang✨ | Lebaranrindu+4 | Riky Yulianto | — | — | Lebaranrindu+6 | — | 4m 03s | |
| 3/13/26 | ![]() Rindu yang Tidak Dicari Obatnya✨ | nostalgialonging+3 | Riky Yulianto | — | — | longingnostalgia+3 | — | 5m 45s | |
| 3/6/26 | ![]() Teman yang Tidak Lagi Setiap Hari✨ | friendshipgrowing up+3 | Sofie Aryati | — | — | friendshipadulthood+4 | — | 5m 42s | |
Want analysis for the episodes below?Free for Pro Submit a request, we'll have your selected episodes analyzed within an hour. Free, at no cost to you, for Pro users. | |||||||||
| 2/27/26 | ![]() Pulang, Tanpa Harus ke Mana-Mana | ✨ Sajak Kini – “Pulang, Tanpa Harus ke Mana-ManaSemakin dewasa, kita sadar pulang bukan soal alamat—melainkan rasa. Rasa aman. Rasa diterima. Rasa tidak perlu menjelaskan kenapa kita berubah.Ternyata pulang bisa sesederhana duduk sendirian tanpa rasa bersalah, mematikan notifikasi tanpa alasan, dan berkata dalam hati, “Aku cukup seperti ini.”Kalau hari ini kamu ingin berhenti sejenak dan tidak ke mana-mana, tidak apa-apa. Mungkin kamu hanya sedang pulang.🎧 Sajak Kini – “Pulang, Tanpa Harus ke Mana-Mana”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Khairun Nisa | — | ||||||
| 2/21/26 | ![]() Diri Sendiri yang Pelan-Pelan Berubah | ✨ Sajak Kini – “Diri Sendiri yang Pelan-Pelan Berubah”Semakin dewasa, kita sering berhenti di depan cermin—bukan untuk memastikan penampilan, tapi untuk bertanya, “Sejak kapan aku jadi seperti ini?” Dulu kita lebih mudah tertawa, lebih berani bermimpi, yakin hidup akan mengikuti mau kita. Lalu hidup memberi jeda. Ada rencana yang gagal, ada orang yang pergi tanpa penjelasan. Kita belajar menahan kata, menurunkan ekspektasi, menyimpan banyak hal sendiri—bukan karena tak peduli, tapi karena terlalu sering kecewa.Namun dewasa mengajarkan sudut pandang yang berbeda. Diam bisa jadi bentuk kehati-hatian. Tenang bisa jadi tanda belajar. Kita tidak kehilangan diri, hanya sedang menjadi lebih sadar tentang apa yang layak diperjuangkan dan apa yang harus dilepas. Jika hari ini kamu merasa asing dengan dirimu sendiri, tidak apa-apa. Kamu tidak hilang—kamu hanya sedang bertumbuh, dengan cara yang lebih sunyi.🎧 Sajak Kini – “Diri Sendiri yang Pelan-Pelan Berubah”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Sofie Aryati | — | ||||||
| 2/14/26 | ![]() Capek yang Tidak Perlu Dijelaskan | ✨ Sajak Kini – “Capek yang Tidak Perlu Dijelaskan”Di usia dua puluh sampai tiga puluh, kita mulai mengenal jenis lelah yang tidak terlihat. Bukan lelah karena kurang tidur, bukan juga karena pekerjaan yang menumpuk. Tapi lelah karena terlalu sering menahan perasaan, terlalu lama berusaha terlihat kuat, dan terlalu jarang benar-benar didengarkan. Kita tetap bangun pagi, menjalani rutinitas yang sama, tersenyum di tempat yang sama—meski di dalam hati ada beban yang sulit dijelaskan.Capek ini tidak selalu dramatis. Ia tidak datang dengan tangis keras atau cerita panjang. Ia hanya hadir diam-diam, mengisi ruang kecil di kepala yang biasanya kita abaikan. Capek karena harus kuat. Capek karena harus mengerti. Capek karena harus terlihat baik-baik saja di depan banyak orang. Dan tidak semua lelah perlu diterangkan panjang lebar—kadang cukup kita sendiri yang tahu bahwa hari ini kita tidak apa-apa, tapi juga belum sepenuhnya baik.Padahal capek bukan tanda gagal. Ia hanya tanda bahwa kita sedang berjalan jauh. Bahwa kita sudah berusaha sejauh yang kita mampu, dengan versi diri yang kita punya hari ini. Kalau hari ini kamu merasa lelah tanpa tahu harus menjelaskannya ke siapa, tarik napas pelan-pelan. Berhenti sebentar tidak apa-apa. Kamu tidak harus kuat setiap waktu. Ada capek yang tidak perlu dijelaskan—cukup diakui, dan dibiarkan beristirahat.🎧 Sajak Kini – “Capek yang Tidak Perlu Dijelaskan”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Khairun Nisa | — | ||||||
| 2/8/26 | ![]() Menerima Bahwa Tidak Semua Orang Akan Tinggal | ✨ Sajak Kini – Tentang Menerima Bahwa Tidak Semua Orang Akan TinggalSemakin dewasa, kita mulai mengerti bahwa tidak semua orang yang datang akan tinggal. Teman yang dulu dekat pelan-pelan menjauh, percakapan yang dulu hangat kini terasa asing, dan hubungan-hubungan yang dulu penting perlahan kehilangan bentuknya. Bukan karena kita atau mereka menjadi buruk, tetapi karena hidup terus bergerak, dan tidak semua orang tumbuh ke arah yang sama.Kehilangan memang terasa sunyi, tapi sering kali justru memberi ruang: ruang untuk mengenal diri sendiri, memilih hubungan yang lebih sehat, dan berhenti memaksakan kehadiran yang tidak lagi saling menguatkan. Tidak semua yang pergi adalah kegagalan—sebagian hanya selesai, dengan caranya sendiri, dan diam-diam membawa kita lebih dekat kepada diri kita yang sebenarnya.🎧 Sajak Kini – “Tentang Menerima Bahwa Tidak Semua Orang Akan Tinggal"✍️ Penulis: Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara: Rizqa Fajria | — | ||||||
| 1/31/26 | ![]() Diam-Diam Kita Sudah Bertumbuh | Kita sering merasa hidup hanya berjalan begitu saja, sibuk, lalu lupa melihat diri sendiri. Padahal di balik hari-hari biasa itu, kita sedang berubah: belajar menahan amarah, memilih tenang, dan memaafkan demi hati yang lebih damai. Di situlah kedewasaan tumbuh, pelan dan sunyi.Mungkin tak terlihat, tapi lihat caramu kini menjaga diri, memilih yang sehat, dan tetap bertahan. Kamu tidak berhenti di tempat. Kamu sedang tumbuh—pelan, pasti, dan dengan cara yang indah.🎧 Sajak Kini – “Diam-Diam Kita Sudah Bertumbuh”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Dinda Rahmatya | — | ||||||
| 1/23/26 | ![]() Insecure yang Tidak Pernah Kita Ceritakan | ✨ Sajak Kini – “Insecure yang Tidak Pernah Kita Ceritakan”Di usia dua puluh sampai tiga puluh, kita sering hidup dengan perasaan “harusnya sudah lebih jauh”. Insecure datang pelan-pelan—saat melihat pencapaian orang lain, mendengar kabar teman seangkatan, atau menerima komentar tentang usia dan hidup yang terasa belum ke mana-mana. Kita tersenyum di luar, tapi di dalam kepala ada suara yang bertanya apakah kita tertinggal, apakah kita cukup, apakah semua usaha ini akan benar-benar sampai ke sesuatu.Padahal hampir semua orang menyimpan kecemasannya sendiri. Insecure bukan kelemahan, melainkan tanda bahwa kita ingin hidup ini berarti. Bahwa kita masih peduli dan ingin bertumbuh. Perjalanan tidak harus cepat, tidak harus sama dengan siapa pun. Kalau hari ini kamu merasa tertinggal, tarik napas pelan-pelan—kamu sedang berjalan di ritmemu sendiri, dan itu sudah lebih dari cukup.🎧 Sajak Kini – “Insecure yang Tidak Pernah Kita Ceritakan”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Khairun Nisa | — | ||||||
| 1/17/26 | ![]() Luka Lama yang Diam-Diam Masih Ikut Kita | ✨ Sajak Kini – “Tentang Luka Lama & Cara Kita Bertahan”Ada luka yang tidak terlihat, tapi selalu terasa saat kita sendirian. Luka dari masa kecil, dari kehilangan, dari rumah yang terlalu keras atau tidak pernah benar-benar hangat. Luka-luka itu tumbuh bersama kita, membentuk cara kita mencintai, bereaksi, dan bertahan. Kita belajar terlalu cepat untuk kuat, terlalu terbiasa menahan, dan sering kali hidup dengan hati yang waspada—bukan karena kita lemah, tapi karena dulu kita harus melindungi diri sendiri.Dewasa memberi kita kesempatan untuk menoleh dan memeluk diri yang pernah terluka. Bukan untuk membuka luka lama, tapi untuk memahami dan berhenti menyalahkan diri sendiri. Menyembuhkan bukan soal melupakan, melainkan memberi ruang bagi hati yang dulu ketakutan. Pelan-pelan saja—kita berhak menjalani hidup yang tidak lagi dibentuk oleh luka lama, melainkan oleh cinta yang kita berikan pada diri hari ini.🎧 Sajak Kini – “Luka Lama yang Diam-Diam Masih Ikut Kita” ✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari 🎙️Pengisi Suara : Sofie Aryati | — | ||||||
| 1/9/26 | ![]() Takut Gagal & Berani Coba Lagi | ✨ Sajak Kini – “Tentang Takut Gagal & Berani Coba Lagi”Tidak ada yang benar-benar menyiapkan kita untuk kegagalan di usia dewasa. Kita belajar berharap, lalu pelan-pelan belajar kecewa saat usaha runtuh, lamaran ditolak, atau hubungan berakhir. Yang paling melelahkan sering kali bukan gagalnya, tapi suara di kepala yang bertanya, “Apa aku tidak cukup?”Padahal hampir semua orang pernah jatuh. Mereka yang terlihat baik-baik saja juga pernah merasa hancur, hanya tidak semua cerita dibagikan. Kegagalan bukan tanda kita salah arah—ia hanya bagian dari perjalanan yang memaksa kita berhenti, melihat diri sendiri, lalu belajar lagi.Keberanian tidak selalu soal melangkah jauh. Kadang ia sesederhana mencoba lagi meski takut, atau memberi diri sendiri izin untuk memulai dari nol. Kalau hari ini kamu masih di sini, masih bertahan, itu sudah bukti: kamu selalu boleh mencoba lagi, dengan caramu sendiri.🎧 Sajak Kini – “Tentang Takut Gagal & Berani Coba Lagi”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari 🎙️Pengisi Suara : Rizqa Fajria | — | ||||||
| 1/2/26 | ![]() Menjadi Baik Pada Diri Sendiri | ✨ Sajak Kini – “Menjadi Baik Pada Diri Sendiri”Kita sering kali terlalu sibuk menjadi tempat pulang bagi orang lain, sampai lupa bagaimana cara memperlakukan diri sendiri dengan lembut. Kita pandai memaafkan kesalahan orang, namun menjadi hakim yang paling kejam bagi kegagalan diri sendiri. Padahal, menjadi dewasa bukan tentang seberapa kuat kita menahan beban, tapi tentang seberapa berani kita memberi jeda saat tubuh mulai lelah.Menjadi baik pada diri sendiri adalah bentuk kedewasaan yang paling sunyi. Ia hadir lewat hal sederhana: berhenti menyalahkan diri, menerima bahwa kita tidak harus selalu baik-baik saja, dan memahami bahwa merawat diri bukanlah sebuah tanda menyerah. Kamu layak merasa aman di dalam dirimu sendiri, tanpa harus terus-menerus memenuhi ekspektasi dunia.Mulailah belajar memeluk dirimu dengan cara yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun. Karena sebelum menjadi sandaran bagi orang lain, kamu adalah rumah pertama yang harus kamu hargai.🎧 Sajak Kini – “Menjadi Baik Pada Diri Sendiri”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Dinda Rahmatya | — | ||||||
| 12/26/25 | ![]() Red Flag vs Green Flag: Jangan Cuma Karena Sayang, Jadi Buta | ✨ Sajak Kini – “Red Flag vs Green Flag: Jangan Cuma Karena Sayang, Jadi Buta”Cinta seharusnya membuat kita merasa aman. Tapi karena terlalu sayang, kita sering menutup mata: kata-kata kasar disebut bercanda, kontrol berlebihan dianggap perhatian, dan rasa cemas diterima sebagai hal yang wajar—padahal ada tanda yang sedang kita abaikan.Toxic relationship tidak selalu datang dengan teriakan. Kadang ia hadir lembut, membatasi duniamu atas nama kebaikan, membuat rasa takut lebih sering hadir daripada rasa tenang. Sementara hubungan yang sehat justru sederhana: didengarkan tanpa disela, diterima tanpa dihakimi, dan tetap saling menjaga meski sedang marah.Dan jika hari ini kamu menyadari sedang terjebak dalam red flag, ingatlah: pergi bukan berarti kalah. Pergi bisa jadi tanda bahwa kamu akhirnya berani memilih cinta yang memberi ruang, menumbuhkan, dan benar-benar layak untukmu.🎧 Sajak Kini – “Red Flag vs Green Flag: Jangan Cuma Karena Sayang, Jadi Buta”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari 🎙️ Pengisi Suara : Sofie Aryati | — | ||||||
| 12/19/25 | ![]() Tentang Menata Diri di Tengah Hidup yang Berantakan | ✨ Sajak Kini – “Tentang Menata Diri di Tengah Hidup yang Berantakan”Ada hari-hari ketika hidup terasa kacau:keuangan seret, pikiran penuh, kamar berantakan,dan kita pun tidak yakin sedang menuju ke mana.Tapi entah bagaimana, kita tetap bangun,tetap bergerak, tetap mencoba menjalani hari.Episode ini mengingatkan:dewasa bukan soal hidup yang rapi,tapi berani melangkah meski semua sedang berantakan.Kadang merapikan satu piring, mandi tepat waktu,atau sekadar menarik napas dalam—itu sudah cukup.Tidak apa kalau kamu belum stabil.Tidak apa kalau kamu masih bingung.Pelan-pelan saja, karena setiap langkah keciladalah bentuk keberanian yang jarang kamu akui.🎧 Dengarkan,Sajak Kini – “Tentang Menata Diri di Tengah Hidup yang Berantakan.”✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari 🎙️ Pengisi Suara : Rizqa Fajria | — | ||||||
| 12/12/25 | ![]() Mantan di Timeline: Unfollow atau Bertahan? | ✨ Sajak Kini hadir lagi — episode terbaru:“Mantan di Timeline: Unfollow atau Bertahan?”Di zaman sekarang, putus cinta tidak selalu berarti benar-benar berpisah.Kadang ia tetap muncul di timeline, lewat story, lewat like kecil yang bikin hati goyah tanpa izin. Kita bilang ini silaturahmi… tapi sering kali, itu cuma cara halus untuk tetap dekat dengan masa lalu.Media sosial membuat segalanya samar:antara dewasa dan masih berharap,antara ikhlas dan pura-pura kuat,antara follow demi “baik-baik saja” atau follow karena belum sepenuhnya rela.Kadang, keberanian bukan melanjutkan hubungan digital itu—tapi berani menekan tombol unfollow,bukan untuk membenci,tapi untuk menyelamatkan diri sendiri.Episode ini untuk kamu yang masih menyimpan mantan di timeline,yang masih bergulat antara unfollow atau bertahan,yang ingin tegar tapi diam-diam masih goyah.Semoga sajak ini menjadi pengingat halus: bahwa melepaskan bukan tanda lemah —tetapi tanda bahwa kamu memilih dirimu sendiri.🎧 Dengarkan episode lengkap “Mantan di Timeline: Unfollow atau Bertahan?”✍️ Penulis: Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara: Sofie Aryati | — | ||||||
| 12/6/25 | ![]() Cinta atau Mimpi? – Apakah Cinta Bisa Menunggu? | ✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru:“Cinta atau Mimpi? – Apakah Cinta Bisa Menunggu?”Di usia muda, kita sering berdiri di dua dunia:antara cinta yang ingin dijaga,dan mimpi yang ingin dikejar.Ada waktu yang terbagi, jarak yang memisah,dan prioritas yang membuat hati harus belajar memilih—atau setidaknya, bertahan.Episode ini mengajak kita merenung:benarkah cinta bisa menunggu sampai kita sukses?Atau justru cinta adalah bagian dari perjalanan itu sendiri?Karena dalam hidup,cinta membuat hati hangat,tapi mimpi membuat langkah tetap menyala.Keduanya indah—tapi tidak selalu berjalan berdampingan.Di sini kita belajar tentang pilihan,tentang pengorbanan,tentang tanggal penting yang terlewatdan pesan yang tak sempat dibalas.Tentang cinta yang ingin diprioritaskan,dan mimpi yang menuntut untuk terus dikejar.Mungkin jawabannya bukan memilih,tapi menemukan keseimbangan.Cinta yang tidak menahan,melainkan menguatkan.Mimpi yang tidak menjauhkan,melainkan memberi arah.🎧 Dengarkan dan resapi,Sajak Kini – “Cinta atau Mimpi? – Apakah Cinta Bisa Menunggu?”Untuk kamu yang sedang berdiri di persimpangan,mencari arti cinta yang tetap setia,meski langkahmu menuju masa depan masih panjang.✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Khairun Nisa | — | ||||||
| 11/28/25 | ![]() Tentang Lelah yang Tidak Pernah Kita Akui | ✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru:“Tentang Lelah yang Tidak Pernah Kita Akui”Kita hidup dalam dunia yang menganggap kesibukan sebagai kebanggaan dan membuat kita malu untuk mengakui bahwa kita tidak sanggup. Ada lelah yang tidak membuat tubuh roboh, tapi membuat hati perlahan kehilangan cahaya.Episode ini mengajak kita merenung:Apakah kita sudah memberi ruang untuk diri beristirahat? Atau kita hanya takut kelihatan rapuh?Karena lelah paling berbahaya bukanlah yang terasa di tubuh, tapi yang diam di dalam pikiran—lelah yang muncul saat kita memaksa tersenyum, atau bilang "nggak apa-apa kok" padahal hati sudah penuh beban.Di sini kita belajar tentang keberanian untuk berhenti sebentar, tentang mematikan notifikasi, dan menjauh dari kerumunan.Mungkin jawabannya bukan terus memaksa kuat,tapi menemukan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.Istirahat bukan dosa. Istirahat adalah cara sederhana untuk kembali mengenali diri.🎧 Dengarkan dan resapi,Sajak Kini – “Tentang Lelah yang Tidak Pernah Kita Akui”Untuk kamu yang sedang merasa berat dan lelah menahan dunia, kamu layak merasa ringan lagi.✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Sofie Aryati | — | ||||||
| 11/21/25 | ![]() HTS: Cinta yang Tinggal di Ruang Abu-Abu | ✨ Sajak Kini hadir dengan episode terbaru:“HTS: Cinta yang Tinggal di Ruang Abu-Abu.”Bagaimana rasanya mencintai tanpa kepastian—menunggu tanpa tahu ditunggu,merindukan tanpa pernah benar-benar diakui?Hubungan yang hangat seperti rumah,tapi dingin seperti kamar kosongsaat pertanyaan “kita ini apa?”tak pernah berani diucap.Episode ini menyelami cinta yang hidup di batas tipis:antara teman dekat, situationship,dan pasangan yang tak pernah diberi nama.Tentang rindu yang ditahan, cemburu yang disembunyikan,dan hati yang pelan-pelan letihkarena terlalu lama tinggal di ruang abu-abu.Karena kadang,luka paling perih bukan ditinggalkan—tapi tidak pernah benar-benar digenggam.🎧 Dengarkan dan resapi,Sajak Kini – “HTS: Cinta yang Tinggal di Ruang Abu-Abu.”Untuk kamu yang sedang bertahan,atau sedang belajar berani menyelamatkan hati sendiri.✍️ Penulis : Ahmad Tri Hawaari🎙️ Pengisi Suara : Khairun Nisa | — | ||||||
Showing 25 of 57
Pitch Fit is a Pro feature
See how bookable this show is for guests, which brands already advertise, the per-episode ad value, and the best-fit guest and sponsor profile. The numbers are blurred on the free plan.
How readily this show books outside guests like you.
How proven this show is for host-read sponsorships.
For Guests
ProFor Advertisers
ProUpgrade to Pro to unlock guest cadence, sponsor categories, fit scores, and per-episode ad value for this show.

























